Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan

Komunikasi dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu

mengantisipasi pesatnya perkembangan tersebut.

Mata pelajaran ini perlu diperkenalkan, dipraktikkan dan dikuasai peserta didik sedini

mungkin agar mereka memiliki bekal untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan global

yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat. Untuk menghadapi perubahan

tersebut diperlukan kemampuan dan kemauan belajar sepanjang hayat dengan cepat

dan cerdas. Hasil-hasil teknologi informasi dan komunikasi banyak membantu manusia

untuk dapat belajar secara cepat. Dengan demikian selain sebagai bagian dari

kehidupan sehari-hari, teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk

merevitalisasi proses belajar yang pada akhirnya dapat mengadaptasikan peserta didik

dengan lingkungan dan dunia kerja.

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi diajarkan sebagai salah satu mata pelajaran Keterampilan yang pelaksanaannya dapat dilakukan secara terpisah atau

bersama-sama dengan mata pelajaran keterampilan lainnya.

B. Tujuan

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bertujuan agar peserta

didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1. Memahami teknologi informasi dan komunikasi

2. Mengembangkan keterampilan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan

komunikasi

3. Mengembangkan sikap kritis, kreatif, apresiatif dan mandiri dalam penggunaan

teknologi informasi dan komunikasi

4. Menghargai karya cipta di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi meliputi aspekaspek

sebagai berikut.

1. Perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan untuk mengumpulkan,

menyimpan, memanipulasi, dan menyajikan informasi

2. Penggunaan alat bantu untuk memproses dan memindah data dari satu

perangkat ke perangkat lainnya.

hakekat Teknologi Informasi yaitu cara di mana kita

menggunakan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah praktis. Teknologi

Informasi diartikan sebagai teknologi pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan

penyebaran berbagai jenis informasi dengan memanfaatkan komputer dan

telekomunikasi yang lahir karena adanya dorongan-dorongan kuat untuk

menciptakan teknologi baru yang dapat mengatasi kelambatan manusia mengolah

informasi

Teknologi Informasi mencakup sistem-sistem komunikasi seperti satelit siaran

langsung, kabel interaktif dua arah, penyiaran bertenaga rendah (low-power broad-

casting), komputer (termasuk PC dan komputer genggam), dan televisi, termasuk

video disk dan video tape cassette. (Ely, 1982). Teknologi Informasi adalah

serangkaian tahapan penanganan informasi, yang meliputi penciptaan sumber-

sumber informasi, pemeliharaan saluran informasi, seleksi dan transmisi informasi,

penerimaan informasi secara selektif, penyimpanan & penelusuran informasi, dan

penggunaan informasi.

Komunikasi berasal dari bahasa Latin, yaitu ”Communicare” artinya

”memberitahukan”; atau ”menjadi milik bersama”. Komunikasi merupakan suatu

proses pemindahan dan penerimaan lambang-lambang yang mengandung makna.

Proses Komunikasi dibedakan menjadi dua macam yaitu: proses primer dan proses

sekunder.

»»  Baca Selengkapnya Klik Di Sini...

KONSEP DASAR PTK (PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

KONSEP DASAR PTK

(PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

Oleh:

Baskoro Adi Prayitno

PENGANTAR

Salah satu masalah klasik namun sangat krusial yang dihadapi oleh guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah adalah masih sulitnya mereka menerapkan produk-produk penelitian dan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran yang direkomendasikan oleh pemerintah. Akibatnya hingga saat ini seringkali kinerja guru masih saja dipersoalkan oleh berbagai pihak.

Beberapa faktor pemicu munculnya masalah di atas antara lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: (1) produk-produk inovasi pembelajaran dan hasil penelitian yang ditawarkan kepada guru sering kali tidak melibatkan guru dalam pembentukan pengetahuan (knowledge construction) sehingga ada kecenderungan produk-produk inovasi seringkali di luar jangkauan guru. (2) penyebarluasan (dessimination) inovasi pembelajaran dan hasil penelitian kepada kalangan praktisi pendidikan (guru) sering memerlukan jangka waktu yang lama, hal ini disebabkan karena kurang efektifnya pola atau model deseminasi yang dikembangkan selama ini, baik melalui seminar, penataran, maupun publikasi ilmiah akibat dari kurang termonitor dan kurang terencananya tindak lanjut selepas dari penataran atau seminar dan kurang jelasnya sasaran dan materi pembinaan (Tilaar, dkk, 1992). Deseminasi hasil penelitian dan inovasi-inovasi baru pendidikan melalui publikasi ilmiah sering kali membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, selain itu ditunjang oleh ‘budaya’ guru untuk membaca dan mencoba hasil penelitian dan inovasi yang didapat dari publikasi llmiah masih sangat rendah. Hal ini membuat ‘wajah’ pendidikan kita tidak pernah berubah mulai dari jaman kolonial sampai jaman global.

Namun demikian bukan berarti bahwa kualitas kompetensi professional guru tidak dapat ditingkatkan atau persoalan-persoalan yang dihadapi guru tidak dapat dipecahkan. Jalan pertama yang paling bijaksana untuk mengatasi hal ini adalah berusaha memotong jalur deseminasi yang berliku serta membekali dan membudayakan guru cara memecahkan masalah secara mandiri sekaligus dapat meningkatkan mutu pembelajaranya. Kedua menumbuhkan rasa butuh (need oriented) pada guru untuk mampu menafsirkan dan menerapkan hasil-hasil penelitian untuk kepentingan pengajaran. Sehingga dengan demikian penafsiran dan penerapan hasil-hasil penelitian bukanlah menjadi beban ekstra bagi seorang guru, melainkan sudah merupakan suatu kebutuhan mendasar yang melekat dan harus dipenuhi oleh seorang guru.

Salah satu upaya strategis yang dilakukan guna mengatasi permasalahan di atas adalah menggeser paradigma pendidikan dari bersifat top down menuju botom up yang bersifat konstruktivis, realistik pragmatis. Perubahan paradigma ini membawa konsekuensi logis bahwa guru tidak lagi ditempatkan sebagai penerima pembaharuan, namun guru juga turut bertanggungjawab dan berperan aktif dalam melakukan pembaharuan pendidikan serta mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya, khususnya dalam pengelolaan pembelajaranya di dalam kelas. Salah satunya pembekalan ketrampilan penelitian tindakan kelas.

Upaya ini akan memberi dampak positif ganda. Pertama, kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran (learning problem) akan semakin meningkat. Kedua, penyelesaian masalah pembelajaran melalui sebuah investigasi terkendali akan dapat meningkatkan kualitas isi (content quality), masukan, proses, sarana dan prasarana, dan hasil belajar. dan ketiga¸ peningkatan kedua kemampuan tadi akan bermuara terhadap peningkatan mutu pendidikan dan kualitas luaran.

Melalui upaya ini (penelitian tindakan kelas) masalah-masalah pembelajaran dapat dikaji dan dituntaskan secara konstruktivis oleh guru, sehingga proses pembelajaran yang inovatif dan ketercapaian tujuan pembelajaran dapat diaktualisasikan secara sistematis.

Selanjutnya apa, mengapa dan bagaimana penelitian tindakan kelas tersebut dapat kita ikuti dalam uraian singkat di bawah ini.


PENGERTIAN PTK

Konsep penelitian tindakan bermula dari pandangan seorang ahli psikologi sosial yang bermana Kurt Lewin (1946). Lewin menggunakan pendekatan penelitian tindakan setelah usainya perang dunia ke dua dalam usaha menyelesaikan berbagai masalah sosial. Lewin pada saat itu mengemukakan dua ide pokok penelitian tindakan yaitu; (1) keputusan bersama, dan (2) komitment untuk meningkatkan dan memperbaiki prestasi kerja. Kedua ide pokok tersebut sekarang menjadi karakteristik dasar penelitian tindakan yang menegaskan perlunya usaha kolaboratif atau usaha secara bersama-sama dalam meningkat mutu prestasi kerja.

Pada tahun 1953, ide Lewin dikembangkan oleh Stephen Corey di New York sebagai pendekatan penelitian yang diselenggarakan oleh guru-guru sekolah. Pada Tahun 1976 Jhon Elliot menggunakan pendekatan ini untuk membantu guru mengembangkan usaha inkuiri dalam pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas yang kemudian dikenal dengan penelitian tindakan kelas (PTK).

Banyak ahli memberikan definisi tentang penelitian tindakan kelas (PTK) berikut ini akan disajikan beberapa definisi PTK yang dikemukakan oleh para ahl tersebut, (1) Standford (1970) mendefinisikan penelitian tindakan adalah ‘analysis, fact finding, conceptualization, planing, execution, more fact finding or evaluation; and then repetition of this whole circle of activities; indeed, a spiral of such circles, (2) Tim proyek PGSM (1999) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantaban rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan, (3) Mukhlis, Abdul dan Nur, Mohamad (2001) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis dan siklustis, (4) Kemis, Stephen dalam D. Hopkins (1992) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah ‘action research is a form of self reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation inorder to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational pratices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out’ (penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelaahan atau inkuri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktek-praktek sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka terhadap praktek-praktek tersebut, (c) situasi di tempat praktek itu dilaksanakan) Mills (2003) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai berikut; ‘Any systematic inquiry conducted by teacher researchers ... to gather information about how their particular schools operate, how they teach, and how well their students learn’. (5) Rapoport (1991) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai berikut; ‘Action research aims to contribute both to the practical concerns of people in an immediate problematic situation and to the goals of social science (including education) by joint collaboration within a mutually acceptable ethical framework.

Bila digabungkan definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas maka diperoleh batasan penelitian tindakan kelas sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang (bersiklus) dan bersifat reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaiakan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi. Proses daur ulang (siklus) kegiatan dalam penelitian tindakan divisualisasikan pada Gambar 1.

Dari gambar 1 di atas terlihat dengan jelas daur ulang aktivitas dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planing)¸ penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation dan evaluation), dan melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai. Secara lebih jelas uraian dari siklus tersebut akan diuraikan bagian selanjutnya.

PERBEDAAN PTK DAN DAN PENELITIAN FORMAL

Penelitian tindakan kelas muncul dari antitesis penelitian formal (empiris) karena penelitian formal dianggap hanya bersifat teoritis akademis. Metode penelitian formal cenderung kaku (rigid) sehingga tidak sesuai dengan setting objek secara alami, dan temuan penelitian yang demikian berupa perevisian, pengembangan, pengguguran, dan penemuan teori baru. Penelitian formal demikian dirasa ‘kurang’ banyak manfaatnya pada tataran perbaikan praktis.

Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk menghasilkan informasi dan pengetahuan yang valid dan memiliki penerapan segera, untuk guru itu sendiri atau siswa-siswa mereka melalui refleksi kritis (critical reflection). Secara lebih jelas keterkaitan antara penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian formal (empiris) dan personal reflection dapat dilihat pada gambar 2.

Personal reflection: pengkajian kembali terhadap keberhasilan atau kegagalan berbagai tujuan dan untuk menentukan perlu tidaknya tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir

Empirical Research: a formal method of study based on observed and measured phenomena that derives knowledge from actual experience.

CAR/PTK : a method of finding ou what works best in claas in order to improve student learning. CAR is more systematic and data based than personal reflection, but is more informal and personal than formal research.

Dari gambar 2 di atas diketahui diagram ven posisi penelitian tindakan kelas diantara personal reflection dengan empirical research. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan perpaduan positif di antara keduanya. Posisi PTK yang demikian tentu saja membawa konsekuensi logis perbedaan dan persamaan prinsip dengan penelitian formal (empiris). Berikut ini disajikan perbedaan di antara keduanya dalam bentuk matrik yang disajikan pada Tabel 1.

PRINSIP-PRINSIP PTK

Hopkins (1993) menyebutkan ada 6 (enam) prinsip dasar yang melandasi penelitian tindakan kelas.

Prinsip pertama, bahwa tugas guru yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas. Untuk itu, guru memilki komitmen dalam mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran secara terus menerus. Dalam menerapkan suatu tindakan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran ada kemungkinan tindakan yang dipilih tidak/kurang berhasil, maka ia harus tetap berusaha mencari alternatif lain. Dosen dan guru harus menggunakan pertimbangan dan tanggungjawab profesionalnya dalam mengupayakan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Prinsip pertama ini berimplikasi pada sifat penelitian tindakan sebagai suatu upaya yang berkelanjutan secara siklustis sampai terjadinya peningkatan, perbaikan, atau ‘kesembuhan’ sistem, proses, hasil, dan sebagainya.

Prinsip kedua bahwa meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran, yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data. Tahapan-tahapan penelitian tindakan selaras dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu: persiapan (planning), pelaksanaan pembelajaran (action), observasi kegiatan pembelajaran (observation), evaluasi proses dan hasil pembelajaran (evaluation), dan refleksi dari proses dan hasil pembelajaran (reflection). Prinsip kedua ini menginsyaratkan agar proses dan hasil pembelajaran direkam dan dilaporkan secara sistematik dan terkendali menurut kaidah ilmiah.

Prinsip ketiga bahwa kegiatan meneliti, yang merupakan bagian integral dari pembelajaran, harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah. Alur pikir yang digunakan dimulai dari pendiagnosisan masalah dan faktor penyebab timbulnya masalah, pemilihan tindakan yang sesuai dengan permasalahan dan penyebabnya, merumuskan hipotesis tindakan yang tepat, penetapan skenario tindakan, penetapan prosedur pengumpulan data dan analisis data. Obyektivitas, reliabilitas, dan validitas proses, data, dan hasil tetap dipertahankan selama penelitian berlangsung. Prinsip ketiga ini mempersyaratkan bahwa dalam menyelenggarakan penelitian tindakan agar tetap menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.

Prinsip keempat bahwa masalah yang ditangani adalah masalah-masalah pembelajaran yang riil dan merisaukan tanggungjawab profesional dan komitmen terhadap pemerolehan mutu pembelajaran. Prinsip ini menekankan bahwa diagnosis masalah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam konteks pembelajaran yang sesungguhnya. Bila pendiagnosisan masalah berdasar pada kajian akademik atau kajian literatur semata, maka penelitian tersebut dipandang sudah melanggar prinsip ke-otentikan. Jadi masalah harus didiagnosis dari kancah pembelajaran yang sesungguhnya, bukan sesuatu yang dibayangkan akan terjadi secara akademik.

Prinsip kelima bahwa konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan. Hal ini penting karena upaya peningkatan kualitas pembelajaran tidak dapat dilakukan sambil lalu, tetapi menuntut perencanaan dan pelaksanaan yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, motivasi untuk memperbaiki kualitas harus tumbuh dari dalam (motivasi intrinsik), bukan sesuatu yang bersifat instrumental.

Prinsip keenam adalah cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di ruang kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di luar ruang kelas, misalnya: tataran sistem atau lembaga. Perspektif yang lebih luas akan memberi sumbangan lebih signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan.

KARAKTERISTIK PTK

Berdasar uraian-uraian yang telah dikemukakan sebelumnya di atas, maka dapat dicermati karakteristik penelitian tindakan kelas, yang berbeda dari karakteristik penelitian formal, yaitu bahwa PTK merupakan;

an inquiry on pratice from within

Karakteristik pertama dari penelitian tindakan kelas bahwa kegiatan tersebut dimulai oleh permasalahan praktis yang dialami oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-harinya sebagai pengelola program pembelajaran di dalam kelas atau sebagai jajaran staf pengajar di sekolah. Dengan kata lain penelitian tindakan kelas bersifat practice driven dan action driven, dalam arti bahwa penelitian tindakan kelas bertujuan memperbaiki praksis secara langsung ‘disini’, ‘sekarang’ sehingga seringkali istilah penelitian tindakan kelas dipertukarkan dengan istilah penelitian praktis.

Dari uraian di atas tersurat dengan jelas bahwa penelitian tindakan kelas menitikberatkan pada permasalahan yang spesifik dan kontekstual, hal ini membawa konsekuensi penelitian tindakan kelas tidak terlalu menghiraukan kerepresentativan sampel seperti pada penelitian formal karena memang tujuan penelitian tindakan kelas bukan untuk menemukan, mengembangkan atau merevisi sebuah teori yang dapat digeneralisasikan secara luas, penelitian tindakan kelas dimaksudkan untuk memperbaiki (improvement) permasalahan praktis dalam pembelajaran ‘disini’ dan ‘sekarang’.

Penelitian tindakan kelas juga berbeda dengan penelitian formal dalam hal metodologi, metodologi penelitian tindakan kelas tidak kaku seperti penelitian formal, dalam arti tidak terlalu memperhatikan kontrol terhadap perlakuan. Namun demikian sebagai kajian yang taat kaidah pengumpulan data tetap dilakukan dengan menekankan objektivitas. Pengungkapan kebenenaran dilakukan secara cermat dan objektif sehingga memungkinkan terselenggaranya peninjauan ulang oleh sejawat.

Dengan kata lain, sebagaiman halnya dengan penelitian formal, Penelitian tindakan kelas dimaksudkan bukan untuk mengemukakan pembenaran diri (self justification), melainkan untuk mengemukakan kebenaran, meskipun jangkauanya lebih terbatas (tidak bisa digeneralisasikan ke populasi).

Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas bepijak pada dua landasan yaitu involvment, keterlibatan langsung guru dalam pelaksanaan penelitian dan improvement, komitmen guru untuk melakukan perbaikan, termasuk perbaikan dalam cara berpikir dan kinerjanya sendiri, kerena itu penelitian tindakan kelas dapat menjadi self reflective inquiry bagi guru, dalam situasi nyata di dalam kelas.

Collaborativ

Upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru, tetapi harus berkolaborasi dengan sejawatnya. Penelitian tindakan kelas merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mewujudkan perbaikan yang diinginkan. Nuansa kolaborasi ini harus tertampilkan dalam keseluruhan proses mulai dari identifikasi masaah bersama, perencanaan, pelaksanaan penelitian tindakan kelas, observasi dan evaluasi, dan refleksi, sampai dengan penyusunan laporan akhir penelitian.

Reflective, Practice, Made Public

Penelitian tindakan kelas memiliki ciri khusus, yaitu sikap reflektif yang berkelanjutan untuk perbaikan (improvement) praktis. Berbeda dengan penelitian formal yang lebih mengutamakan pendekatan eksperimental, penelitian tindakan kelas lebih menekankan kepada proses ‘perenungan kembal’i (refleksi) terhadap proses dan hasil penelitian secara berkelanjutan untuk mendapatkan penjelasan dan justifikasi tentang kemajuan, peningkatan, kemunduran, kekurang efektifan, dan sebagaianya dari pelaksanaan sebuah tindakan untuk dapat digunakan memperbaiki proses tindakan pada siklus-siklus selanjutnya.

Every day Pratical Problems , penelitian tindakan kelas lebih memfokuskan permasalahan nyata di dalam kelas yang dihadapi guru sehari-hari, bukan berangkat dari permasalahan yang bersifat teoritis (teoritical problems). Oleh sebab itu penentuan masalah dalam penelitian tindakan kelas harus berawal dari permasalahan nyata di dalam kelas, yang kemudian didiagnosis akar masalah dari permasalahan tersebut sebelum bisa menentukan langkah-langakah tindakan yang paling tepat.

Teori menuju aksi, Penelitian tindakan kelas dimaksudkan untuk mengadopsi teori kedalam tindakan nyata untuk merubah situasi yang sulit kedalam permasalahan praktis yang bisa dipecahkan.

TUJUAN DAN MANFAAT PTK

Apakah tujuan kita melakukan penelitian tindakan kelas? Sebagaimana sudah dijelaskan pada paparan sebelumnya, jawaban yang paling mudah terhadap pertanyaan tesebut adalah penelitian tindakan kelas dilaksanakan demi perbaikan (improvement) atau peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan/berkesinambungan. Mc Niff (1992) menegaskan bahwa dasar utama dilaksanakan penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan, kata perbaikan disini harus dimaknai dalam konteks pembelajaran khususnya dan implementasi program pada umumnya

Jika tujuan utama penelitian tindakan kelas, untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses belajar mengajar, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah ‘bagaiamana tujuan tersebut itu dapat tercapai?’ tujuan itu dapat tercapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis keadaan, kemudian mencobakan berbagai tindakan alaternatif secara sistematis guna memecahkan permasalahan tersebut, dengan kata lain, dilakukan perencanaan tindakan alterfnataif oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi efektifitasnya dalam memecahkan persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi oleh guru. Daur tindakan inilah yang digambarkan dalam gambar 1 sebelumnya. Jika perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam konteks pembelajaran dapat terwujud akibat adanya PTK, dampak penyerta yang dapat dicapai sekaligus oleh kegiatan penelitian ini adalah tumbuhnya budaya dan produktivitas meneliti di kalangan praktisi pendidikan (guru).

Dengan demikian akibat logis dari uraian di atas maka banyak manfaat yang dapat dipetik, diantaranya yaitu (1) guru semakin diberdayakan (empowered) untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri, dengan kata lain prakarsa untuk melakukan ‘revolosi inovasi’ dalam pendidikan hanya akan berhasil jika dimulai dari ‘ujung tombak’ pelaksana di lapangan. (2) guru memiliki keberanian mencobakan hal-hal baru yang diduga dapat membawa perbaikan dalam kegiatan pembelajaranya di dalam kelas, keberanian ini berdampak pada munculnya rasa percaya diri dan kemandirian guru dalam memecahkan permasalahan pembelajaranya di dalam kelas. (3) Guru tidak lagi puas dengan rutinitas monoton (complacent), melainkan terpacu untuk selalu berbuat lebih baik dari sekarang yang telah diraihnya sehingga terbuka peluang untuk peningkatan kinerja secara berkesinambingan (continue).

Secara ringkas, inovasi pembelajaran yang bersifat bottom up (tumbuh dari bawah) dengan sendirinya akan jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan yang dilakukan dari ata (top down). Hal ini karena pendekatan inovasi pembelajaran yang bersifat top down tidak jarang berangkat dari teori yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru secara individual bagi pemecahan permasalahan pembelajaran yang tengah dihadapinya di dalam kelas.

BAGAIMANA MEMULAI PTK?

Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk mengungkap penyebab masalah dan sekaligus memberikan solusi terhadap masalah. Upaya tersebut dilakukan secara terkendali dan kolaboratif. Langkah-langkah pokok yang umumnya ditempuh adalah: 1) penetapan fokus masalah penelitian, 2) perencanaan tindakan perbaikan, 3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi, 4) analisis dan refleksi, dan 5) perencanaan tindak lanjut.

Penetapan fokus masalah penelitian

Merasakan Adanya Masalah

Sebelum ada masalah yang ditetapkan, maka perlu ditumbuhkan sikap dan keberanian untuk mempertanyakan kualitas pembelajaran yang selama ini dilcapai. Sikap demikian sangat diperlukan untuk menumbuhkan kemauan untuk memperbaiki diri. Pertanyaan-pertanyaan dapat diarahkan pada: apakah kualitas siswa sudah cukup baik? Apakah proses pembelajaran yang dilakukan sudah cukup efektif? Apakah sarana pembelajaran cukup memadai? apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas? dst. Tahapan ini disebut dengan tahapan merasakan adanya masalah dalam pembelajaran.

Identifikasi Masalah

Selanjutnya dilakukan identifikasi terhadap masalah yang sangat merisaukan. Pada tahap ini yang paling penting adalah menghasilkan gagasan-gasan awal mengenai permasalahan aktual yang dialami dalam pembelajaran. Tahap ini disebut dengan tahapan mengidentifikasi permasalahan.

Analisis Masalah

Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi, maka dilanjutkan dengan analisis masalah untuk menentukan urgensinya. Analisis terhadap masalah juga dimaksudkan untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau solusi (obat) yang akan diambil.

Merumuskan Masalah

Selanjutnya, masalah-masalah yang dapat diidentifikasi dan ditetapkan dirumuskan secara jelas, spesifik dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Contoh rumusan masalah yang mengandung tindakan alternatif yang ditempuh: apakah strategi pembelajaran menulis yang berorientasi pada proses dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis?

Perencanaan Tindakan

Formulasi Hipotesis Tindakan

Setelah masalah dirumuskan secara operasional, maka perlu dirumuskan alternatif tindakan yang akan diambil. Alternatif tindakan yang diambil dapat dirumuskan ke dalam hipotesis tindakan dalam arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan.

Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis dalam penelitian formal. Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang diambil akan dapat memperbaiki suatu sistem, proses, atau hasil. Contoh: Pembelajaran menulis berpendekatan proses akan berdampak positif terhadap kualitas tulisan siswa.


Persiapan Tindakan

Sebelum pelaksanaan tindakan, maka perlu perencanaan sebagai tindakan persiapan. Beberapa hal perlu direncanakan secara baik, antara lain, (1) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran disamping bentuk-bentuk kegiatan yang akan dilakukan, (2) Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya tindakan, (3) Mepersiapkan instrumen penelitian, misalnya untuk mengobservasi proses, kegiatan, dan hasil pembelajaran, (4) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan dan menguji keterlaksanaannya di lapangan.

Pelaksanaan Tindakan dan Observasi-Interpretasi

Pelaksanaan Tindakan

Jika semua tindakan dipersiapkan, maka skenario tindakan dilaksanakan dalam situasi pembelajaran yang aktual. Kegiatan pelaksanan tindakan perbaikan merupakan tindakan pokok dalam siklus penelitian tindakan. Pada saat pelaksanaan tindakan, kegiatan mengobservasi dan interpretasi dilakukan secara berbarengan dengan kegiatan refleksi. Penggabungan kegiatan tindakan, observasi, interpretasi, dan refleksi merupakan suatu kenyataan proses pembelajaran yang utuh.

Observasi dan Interpretasi

Secara umum, observasi merupakan upaya untuk merekam proses yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Mengingat kegiatan observasi menyatu dalam pelaksanaan tindakan, maka perlu dikembangkan sistem dan prosedur observasi yang mudah dan cepat dilakukan. Observasi akan memiliki manfaat apabila dilanjutkan dengan diskusi sebagai balikan. Balikan ini sangat diperlukan untuk dapat memperbaiki proses penyelenggaraan tindakan.

Analisis dan Refleksi

Analisis Data.

Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi data, paparan data, dan penyimpulan hasil analisis, (1) Reduksi Data. Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi, pengelompokkan, dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna, (2) Paparan Data. Pemaparan data merupakan suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, grafik, atau perwujudan lainnya, (3) Penyimpulan. Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat dan bermakna.

Refleksi

Refleksi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah dan belum terjadi, apa yang dihasilkan, kenapa hal tersebut terjadi demikian, dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan. Komponen-komponen refleksi dapat digambarkan sebagai berikut.

ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYIMPULAN TINDAK LANJUT

Perencanaan Tindak Lanjut

Bila hasil perbaikan yang diharapkan belum tercapai pada siklus 1, maka diperlukan langkah lanjutan pada siklus 2. Satu siklus kegiatan merupakan kesatuan dari kegiatan perumusan masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan interpretasi, serta analisis dan refleksi. Banyaknya siklus tidak dapat ditetapkan, dan karenanya perlu dibuatkan semacam kriteria keberhasilan. Kriteria keberhasilan dapat ditetapkan, misalnya dengan menggunakan prinsip belajar tuntas. Apabila tingkat perbaikan yang diharapkan tercapai minimal 75%, maka pencapaian itu dapat dikatakan sudah memenuhi kriteria.

INSTRUMEN-INSTRUMEN DALAM PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan sangat sejalan dengan prosedur dan langkah penelitian tindakan kelas itu sendiri. Ditinjau dari hal tersebut, maka instrumen-instrumen itu dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengobservasi guru (observing teachers), instrumen untuk mengobservasi kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengobservasi perilaku siswa (observing students).

Pengamatan terhadap Perilaku Guru (Observing Teachers)

Observasi merupakan alat yang efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya, tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Salah satu bentuk instrumen observasi adalah observasi anekdotal (anecdotal record).

Observasi anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Observasi anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas. Observasi anekdotal tidak mempersyaratkan pengamat memperoleh latihan secara khusus. Suatu observasi anekdotal yang baik setidaknya memiliki empat ciri, yaitu: 1) pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi peristiwa yang terjadi di kelas, 2) tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas, 3) hasil pengamatan dicatat lengkap dan hati-hati, dan 4) pengamatan harus dilakukan secara obyektif.

Beberapa model pengamatan anekdotal diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain:a) Catatan Anekdotal Peristiwa dalam Pembelajaran (Anecdotal Record for Observing Instructional Events), b) Observasi Anecdotal Interaksi Guru-Siswa (Anecdotal Teacher-Student Interaction Form), c) Observasi Anekdotal Pola Pengelompokkan Belajar (Anecdotal Record Form for Grouping Patterns), d) Observasi Terstruktur (structured observation), e) Lembar Observasi Model Manajemen Kelas (Checklist for Management Model), f) Lembar Observasi Keterampilan Bertanya (Checklist for Examining Questions), g) Catatan Anekdotal Aktivitas Pembelajaran (Anecdotal Record of Pre-, Whilst-, and Post-Teaching Activities) , h) Catatan Anekdotal Membantu Siswa Berpartisipasi (Checklist for Routine Involving Students), dsb.

Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classrooms)

Pengamatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Disamping itu, observasi demikian dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Observasi anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.

Beberapa model pengamatan anekdotal kelas diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Format Anekdotal Organisasi Kelas (Form for Anecdotal Record of Classroom Organization), b) Format Peta Kelas (Form for a Classroom Map), c) Observasi Kelas Terstruktur (Structured Observation of Classrooms), d) Format Skala Pengkodean Lingkungan Sosial Kelas (Form for Coding Scale of Classroom Social Environment), e) Lembar Cek Wawancara Personalia Sekolah (Checklist for School Personnel Interviews), f) Lembar Cek Kompetensi (Checklist of Competencies), dsb.

Pengamatan Perilaku Siswa (Observing Students).

Observasi anekdotal terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau bekelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.

Beberapa model pengamatan terhadap perilaku siswa diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Tes Diagnostik (Diagnostic Test) , b) Catatan Anekdotal Perilaku Siswa (Anecdotal Record for Observing Students), b) Format Bayangan (Shadowing Form), c) Kartu Profil Siswa (Profile Card of Strudents), d) Carta Deskripsi Profil Siswa (Descriptive profile Chart), Sistem Koding Partisipasi Siswa (Coding System to Observe Student Participation in Lessons), e) Inventori Kalimat tak Lengkap (Incomplete Sentence Inventory), f) Pedoman Wawancara untuk Refleksi (Interview Guide for Reflection), g) sosiogram, dsb.

»»  Baca Selengkapnya Klik Di Sini...

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN PKPS/IPS SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM
PELAJARAN PKPS/IPS SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA
GAMBAR PADA POKOK BAHASAN PENINGGALAN BANGUNAN
BERSEJARAH PADA SISWA KELAS IV SD GISIKDRONO 04
KECAMATAN SEMARANG BARAT KOTA SEMARANG
TAHUN AJARAN 2005/2006

SKRIPSI

Diajukan Dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata 1
Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Nama : Siti Khotimah
NIM : 3101404519
Jurusan : Sejarah
Program : Pendidikan Sejarah
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVBERSITAS NEGERI SEMARANG
2006












PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI
Rencana skripsi dengan judul :
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM
PELAJARAN PKPS/SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR
PADA POKOK BAHASAN PENINGGALAN BANGUNAN BERSEJARAH PADA
SISWA KELAS IV SD GISIKDRONO 04 KECAMATAN SEMARANG BARAT
KOTA SEMARANG
TAHUN AJARAN 2005/2006
Ini telah disetujui oleh dosen pembimbing dan siap untuk disusun menjadi skripsi
Tanggal
Semarang, 2006
Yang mengajukan
Sit Khotimah
NIM 310.140.4519
Mengetahui
Pembimbing I Pembimbing II
Dra Ufi Saraswati, M.Hum Arif Purnomo, S.Pd., S.S, M.Pd
NIP. 131 876 209 NIP. 132 238 496
Mengesahkan
Ketua Jurusan / Pendidikan Sejarah
Drs. JAYUSMAN, M.Hum
NIP. 131764053
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benarbenar
hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik
sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam
skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang, 2006
SITI KHOTIMAH
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
o Hidup ini akan punya arti jika dalam hidupnya bermanfaat bagi diri sendiri
dan orang lain
o Akal budi yang baik mendatangkan karunia, tetapi pengkhianat mencelakaan
mereka
PERSEMBAHAN
Karya tulis ini kupersembahkan kepada
:
1. Suami dan anak-anakku tersayang
2. Jurusan Sejarah UNNES
3. Rekan-rekan sekerja yang telah
banyak memberikan dukungan dan
dorongan
4. Teman-teman Seangkatan dalam
perkuliahan
SARI
Siti Khotimah. 2006. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Dalam
Pembelajaran PKPS/IPS Sejarah Dengan Menggunakan Media Gambar pada Pokok
Bahasan Peninggalan Bangunan Bersejarah pada Siswa Kelas IV SD Gisikdrono 04
Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang, tahun Ajaran 2005/2006.Jurusan
Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang, 70 halaman.
Kata Kunci : Media Gambar, Prestasi, Belajar
Prinsip pengajaran yang baik adalah jika proses belajar mengajar mampu
mengembangkan konsep generalisasi dari bahan abstrak menjadi hal yang jelas dan
nyata. Maksudnya, proses belajar mengajar dapat membawa perubahan pada diri anak
dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari pemahaman yang bersifat umum menjadi
khusus. Media pembelajaran dapat mermbantu menjelaskan bahan yang abstrak
menjadi realistik.
Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya
meningkatkan prestasi belajar dalam pelajaran PKPS/Sejarah pada pokok bahasan
peninggalan bangunan bersejarah pada siswa Kelas IV SDN Gisikdrono 04
Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang melalui penggunaan media gambar?.
Tujuan yang akan diperoleh melalui penelitian ini adalah untuk menjelaskan upaya
meningkatkan prestasi belajar dalam pelajaran PKPS/Sejarah pada pokok bahasan
peninggalan bangunan bersejarah pada siswa kelas IV SDN Gisikdrono 04 Kecamatan
Semarang Barat Kota Semarang melalui penggunaan media gambar.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas IV SD Gisikdrono 04
Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang.
Berdasarkan hasil penelitian sebagai berikut: Hasil belajar siswa pada siklus I
adanya peningkatan dibandingkan sebelum pembelajaran dengan media gambar.
Sebelum pembelajaran, hasil belajar siswa menunjukkan dari 42 orang siswa kelas IV,
30 orang (72%) siswa mendapatkan nilai di bawah 6, dan hanya 12 orang siswa (28%)
yang mendapat diatas 6. Sesudah pembelajaran dilakukan hasilnya menjadi 15 orang
siswa mendapatkan nilai di bawah 6, dan 27 orang mendapatkan nilai di atas 6.
Keseluruhan rata-rata kelas menjadi 6,5; Sebelum diberi pembelajaran, hasil belajar
siswa siswa pada siklus I dari 42 orang siswa kelas IV, 15 orang siswa mendapatkan
nilai di bawah 6, dan 27 orang mendapatkan nilai di atas 6. Secara keseluruhan ratarata
kelas menjadi 6,50. Sesudah siklus II dilakukan hasilnya menjadi 5 orang siswa
mendapatkan nilai di bawah 6, dan 37 orang mendapatkan nilai di atas 6. Secara
keseluruhan rata-rata kelas menjadi 7,50; Upaya guru untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa dengan menggunakan media gambar atau foto. Saran sebagai berikut :
Guru dalam setiap pembelajaran sejarah yang dilakukannya perlu mempersiapkan
media yang digunakan untuk menjadikan pembelajaran sejarah lebih mudah dipahami
dan disenangi; Kepala sekolah perlu memfasilitasi ketersediaan media pembelajaran
di sekolah.
KATA PENGANTAR
Terucap kata syukur kepada Allah SWT, atas limpahan rahmat dan pertolongan-
Nya, sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Harapan yang tertuang dalam
skripsi ini adalah hasil yang penulis lakukan.
Namun demikian skripsi ini masih banyak kekurangan. Hal ini dikarenakan
adanya keterbatsan penulis, sehingga hasil dari penulisan Skripsi ini kurang
sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak.
Terselesaikannya penulisan skripsi ini tak luput dari bantuan berbagai pihak
baik berupa materiil maupun spirituil. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan
banyak terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Ari Tri Soegito, SH, MM, selaku Pjs Rektor Universitas Negeri
Semarang (UNNES), yang telah memberikan kesempatan untuk menuntut ilmu di
Universitas Negeri Semarang.
2. Bapak Drs. Sunardi, M.M, Selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial, yang telah
memberikan ijin bagi penulis untuk menyusun skripsi ini.
3. Drs. Jayusman, M.Hum. Selaku Ketua Jurusan Sejarah yang telah memberikan
beberapa kemudahan sehingga penulis dapat meneruskan pendidikan di
Universitas Negeri Semarang.
4. Dra. Ufi Saraswati, M.Hum, Pembimbing I yang telah banyak memberikan
bantuan berupa bimbingan, pengarahan dan motivasi di dalam menyelesaikan
skripsi ini.
5. Arif Purnomo, S.Pd, SS, M.Pd, Pembimbing II yang telah banyak juga
memberikan bimbingan, pengarahan dan motivasi di dalam menyelesaikan skripsi
ini.
6. Ibu Chatarina Sunarti Kepala SD Negeri Gisikdrono 04 Kecamatan Semarang
Barat yang telah memberikan ijin dan kemudahan untuk melaksanakan penelitian
di SD Negeri Gisikdrono 04
7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah ikut
membantu dan mendukung sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan.
Semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis selama ini mendapat balasan
dari Allah SWT, Amin.
Semarang, Juni 2006
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................ ii
PENGESAHAN KELULUSAN ................................................................... ii
PERNYATAAN ........................................................................................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................ v
SARI ............................................................................................................. vi
KATA PENGANTAR .................................................................................. vii
DAFTAR ISI ................................................................................................. ix
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR..................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah............................................................. 1
B. Perumusan Masalah ................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian........................................................................ 5
D. Manfaat Penelitian ..................................................................... 5
E Penegasan Istilah ...................................................................... 6
F. Sistematika Penelitian................................................................ 7
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ........................................ 9
A. Landasan Teori........................................................................... 9
B. Hipotesis .............................................................................34
BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 35
A. Pendekatan Penelitian ............................................................ 36
B. Subyek Penelitian ................................................................. 36
C. Variabel Penelitian ................................................................ 36
D. Metode Pengumpulan Data.................................................... 36
E. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ...................................... 37
E. Teknik Analisis Data ............................................................. 39
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................... 41
A. Hasil Penelitian ...................................................................... 41
B. Pembahasan ........................................................................... 45
BAB V PENUTUP ................................................................................... 49
A. Kesimpulan .......................................................................... 49
B. Saran..................................................................................... 50
Daftar Pustaka
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Instrumen Media Gambar ........................................................... 53
Lampiran 2 Lembar Observasi ........................................................................ 54
Lampiran 3 Soal Test ....................................................................................... 56
Lampiran 4 Kisi-kisi Test Prestasi ................................................................... 61
Lampiran 5 Kisi-kisi Prestasi Belajar ............................................................... 62
Lampiran 6 Hasil Penelitian ............................................................................ 63
Lampiran 7 Hasil Prestasi Belajar Siswa......................................................... 64
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Gereja Blenduk ........................................................................ 65
Gambar 2 Tugu Muda ............................................................................... 66
Gambar 3 Musium Manggala Bhakti ......................................................... 67
Gambar 4 Lawang Sewu ........................................................................... 68
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan nasional memiliki tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki budi pekerti yang luhur,
pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap
dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan
(Yahya 2003: 36). Oleh karena itu pemerintah melakukan pemerataan dan
peningkatan mutu pendidikan.
Pendidikan dipandang sebagai salah satu faktor utama yang menentukan
pertumbuhan ekonomi, yaitu melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja terdidik.
Di samping itu pendidikan dipandang mempunyai peranan penting dalam menjamin
perkembangan dan kelangsungan bangsa.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai tugas untuk
menghantarkan peserta didik untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.
Sekolah juga dipercaya sebagai satu-satunya cara agar manusia pada zaman sekarang
dapat hidup mantap di masa yang akan datang. Keberhasilan pendidikan di sekolah
sangat tergantung pada proses belajar-mengajar di kelas.
Dalam pembelajaran di sekolah, terdapat banyak unsur yang saling berkaitan
dan menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Unsur-unsur tersebut
adalah: pendidik (guru), peserta didik (siswa), kurikulum, pengajaran, tes, dan
lingkungan. Siswa sebagai subjek dalam proses tersebut juga sangat berperan dalam
keberhasilan kegiatan belajar mengajar (Sudjana 2001: 2).
Salah satu tugas pendidik atau guru adalah menciptakan suasana pembelajaran
yang dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan bersemangat.
Suasana pembelajaran yang demikian akan berdampak positif dalam pencapaian
prestasi belajar yang optimal. Olerh karena itu guru sebaiknya memiliki kemampuan
dalam memilih metode dan media pembelajaran yang tepat. Ketidaktepatan dalam
penggunaan metode dan media akan menimbulkan kejenuhan bagi siswa dalam
menerima materi yang disampaikan sehingga materi kurang dapat dipahami yang
akan mengakibatkan siswa menjadi apatis.
Prinsip pengajaran yang baik adalah jika proses belajar mengajar mampu
mengembangkan konsep generalisasi dari bahan abstrak menjadi hal yang jelas dan
nyata. Maksudnya, proses belajar mengajar dapat membawa perubahan pada diri anak
dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari pemahaman yang bersifat umum menjadi
khusus. Media pembelajaran dapat mermbantu menjelaskan bahan yang abstrak
menjadi realistik (Kasmadi 2001: 213).
Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah adalah sejarah.
Pengajaran sejarah memiliki tujuan dalam menumbuhkan dan mengembangkan
kesadaran nasionalisme. Tanpa mengetahui sejarahnya, tidak mungkin bangsa
tersebut mengenal dan memiliki identitas (Kartodirjo 1992 : 247). Dalam
hubungannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, secara umum tujuan
mempelajari sejarah, antara lain: (1) menyadarkan anak didik akan kebesaran dan
kejayaan serta kelemahan-kelemahan kita sebagai suatu bangsa, (2) membangkitkan
dan mengembangkan semangat nasionalisme, dan (3) menumbuhkan tekad untuk
merealisir cita-cita nasional (Ali 1963: 320).
Untuk tingkat sekolah dasar, sejarah bukanlah mata pelajaran yang berdiri
sendiri. Sejarah diajarkan beserta dengan materi lain, seperti ilmu bumi, ekonomi, dan
pemerintahan, dalam suatu mata pelajaran yang dinamakan Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS) atau Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial (PKPS).
SD Gesikdrono 04 Semarang adalah salah satu sekolah dasar yang terletak di
Semarang Barat. Berdasarkan pengalaman penulis dalam mengampu di SD
Gisikdrono 04, khusunya pada kelas IV dijumpai kondisi prestasi belajar siswa dalam
mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial (PKPS),
khususnuya tentang materi sejarah yang rendah. Dari 42 orang siswa kelas IV, 30
orang (72%) siswa mendapatkan nilai di bawah 6, dan hanya 12 orang siswa (28%)
yang mendapat diatas 6. Masalah tersebut bersumber pada beberapa faktor
diantaranya siswa kurang aktif dalam pembelajaran.
Siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran PKPS khususnya tentang materi
sejarah disebabkan karena metode dan pendekatan yang digunakan guru kurang
mendorong siswa untuk belajar secara kondusif, sehingga penyajian materi pelajaran
oleh guru cenderung monoton. Guru cenderung lebih banyak berceramah dan kurang
variatif dalam menggunakan metode dan media pembelajaran. Hal ini menyebabkan
pembelajaran bersifat abstrak dan teoretis, sehingga siswa tidak aktif dalam
pembelajaran dan akan menimbulkan kebosanan terhadap pembelajaran yang
dilakukan. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran sejarah perlu kiranya
dirancang keterlibatan siswa secara aktif. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
disusun (Semiawan 1987 : 8).
Keadaan seperti ditunjukkan di atas tentu sangat mengkhawatirkan. Salah satu
upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan prestasi belajar siswa adalah
dengan menggunakan media gambar atau foto. Dengan media ini siswa akan lebih
paham, karena pembelajaran menjadi lebih konkrit dan realistis. Media gambar
merupakan sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagi
curahan perasaan atau pikiran (Rumampuk 1988 : 8). Sejumlah gambar, lukisan, baik
dari majalah, buku, koran, dan lain-lain yang ada hubungannya dengan pelajaran
dapat dipergunakan sebagai alat peraga pembelajaran (Sudjana 1982: 30).
Penggunaan media gambar diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa akan
materi yang disampaikan guru.
Berdasarkan penjelasan di atas tergambar bahwa diperlukan upaya untuk
meningkatkan prestasi belajar PKPS khususnya tentang materi sejarah pada siswa
kelas IV SD Gesikdrono 03 Semarang. Oleh karena itu penelitian ini ingin
meningkatkan prestasi belajar itu dengan menggunakan media gambar dengan judul
Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Dalam Pelajaran PKPS / IPS Sejarah
Dengan Menggunakan Media Gambar Pada Pokok Bahasan Peninggalan Bangunan
Bersejarah Pada Siswa Kelas IV SD Gisikdrono 04 Kecamatan Semarang Barat Kota
Semarang Tahun Ajaran 2005/2006.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian
ini adalah bagaimana upaya meningkatkan prestasi belajar dalam pelajaran
PKPS/Sejarah pada pokok bahasan peninggalan bangunan bersejarah pada siswa
Kelas IV SDN Gisikdrono 04 Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang tahun
ajaran 2005/2006 melalui penggunaan media gambar?.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang akan diperoleh melalui
penelitian ini adalah untuk menjelaskan upaya meningkatkan prestasi belajar dalam
pelajaran PKPS/Sejarah pada pokok bahasan peninggalan bangunan bersejarah pada
siswa kelas IV SDN Gisikdrono 04 Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang tahun
ajaran 2005/2006 melalui penggunaan media gambar.
D. Manfaat Penelitian
Secara garis besar hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai
berikut :
1. Manfaat Teoretis
a. Memberikan sumbangan pengetahuan dan bahan tambahan referensi bagi
pengembangan ilmu, khususnya tentang penelitian tindakan kelas.
b. Sebagai bahan referensi untuk mengkaji permasalahan yang sama dengan
lingkup yang lebih luas.
2. Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi para guru
yang mengampu di sekolah dasar untuk lebih meningkatkan kompetensinya
dalam mengajar dalam mata pelajaran PKPS/IPS Sejarah dengan pemanfaatan
media, khususnya media gambar.
b. Memberi masukan tentang salah suatu upaya dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa dalam mata pelajaran IPS Sejarah melalui penggunaan media
gambar dalam pembelajaran.
E. Penegasan Istilah
Untuk memberikan gambaran yang jelas serta mengarah pada tujuan yang
dimaksud, penulis akan memberikan penegasan dari beberapa istilah yang dipakai
dalam judul skripsi ini. Beberapa istilah yang perlu dijelaskan adalah:
1. Mata Pelajaran Sejarah
Sejarah adalah gambaran tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang dialami
oleh manusia disusun secara ilmiah, meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan
analisa kritis, sehingga mudah dimengerti dan dipahami. Sedangkan mata
pelajaran sejarah merupakan bagian dari mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial
(IPS). Adapun sejarah (nasional dan umum) adalah pengetahuan mengenai proses
dan perkembangan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia sejak masa
lampau hingga kini.
2. Prestasi Belajar
Yang dimaksud prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Jika dihubungkan
dengan belajar, maka mempunyai arti hasil yang telah dicapai siswa setelah
melakukan aktifitas belajar (Winkel, 1991; 162 ). Di dalam penelitian ini yang
disebut dengan prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh siswa sesudah
pembelajaran PKPS/IPS Sejarah melalui penggunaan media gambar.
3. Media Gambar
Media adalah segala alat fisik yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan
serta merangsang anak didik dalam belajar. Media gambar adalah media yang
digunakan dalam pembelajaran berupa gambar yang diambil baik secara
dokumentasi tentang bangunan bersejarah
F. Sistematikan Penulisan Skripsi
Sistematika penulisan skripsi ini disusun sebagai berikut :
1. Bagian awal skripsi
Bagian awal meliputi : judul skripsi, abstrak, lembar pengesahan, motto dan
persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel dan daftar lampiran.
2. Bagian isi skripsi terdiri dari :
Bab I Pendahuluan, terdiri dari : latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, dan sistematika
penulisan skripsi.
Bab II Landasan teori dan hipotesis tindakan, terdiri dari: landasan teori yang
memuat pengertian prestasi belajar, media gambar, pemanfaatan media gambar
dalam pembelajaran PKPS/Sejarah, dan hipotesis tindakan.
Bab III Metode penelitian terdiri dari : pendekatan penelitian, subjek penelitian,
variabel penelitian, metode pengumpulan data, prosedur penelitian tindakan
kelas, dan teknik analisis data.
Bab IV Hasil penelitian dan pembahasan, terdiri dari hasil penelitian dan
pembahasan hasil penelitian.
Bab V Penutup berisi simpulan dan saran
3. Bagian Akhir Skripsi
Bagian akhir skripsi berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Landasan Teori
1. Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi Belajar
Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua
unsur, yaitu jiwa dan raga. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga
untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman
individu dalam interaksi dengan lingkungan yang menyangkut aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik. Gerak raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan
proses jiwa untuk mendapatkan perubahan (Syaiful 2002: 13). Sementara itu
Slameto (2003: 2) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Hampir senada dengan pendapat di atas, Winkel (1991: 36)
mendefinisikan belajar sebagai suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung
dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap. Belajar merupakan
tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan, maka belajar
hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah obyek terjadinya proses
belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa yang memperoleh sesuatu yang ada
di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan
alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang
dijadikan bahan belajar (Dimyati 2002: 7).
Belajar adalah suatu kegiatan yang melibatkan individu secara
keseluruhan, baik fisik maupun psikis, untuk mencapai perubahan dalam
tingkah laku (Darsono 2001: 32). Sementara itu Walker (dalam Ahmadi 1990:
119) mengartikan belajar sebagai perubahan sebagai akibat dari adanya
pengorbanan yang merupakan proses dimana tingkah laku individu
ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan pengalaman.
Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.
Prestasi belajar merupakan hasil evaluasi belajar yang diperoleh atau
dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam kurun
waktu tertentu. Bentuk konkrit dan prestasi belajar adalah dalam bentuk skor
akhir dari evaluasi yang dimasukkan dalam nilai raport. Untuk mengetahui
prestasi belajar siswa dilakukan evaluasi.
Prestasi belajar merupakan wujud yang menggambarkan usaha belajar
yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa, ataupun orang lain dan
lingkungannya. Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa prestasi belajar
adalah hasil yang dicapai siswa setelah melalui proses belajar yang
ditunjukkan dalam bentuk angka, huruf ataupun tindakan yang mencerminkan
prestasi anak dalam periode tertentu dalam belajar.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Belajar merupakan proses yang menimbulkan terjadinya perubahan
atau pembaharuan dalam tingkah laku atau kecapakan. Jadi berhasil tidaknya
seseorang dalam proses belajar tergantung dari faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Menurut Slameto (1995: 54-72) faktor-faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan dalam dua bagian, yaitu
faktor intern dan faktor ekstern.
Faktor ekstern adalah faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang
berasal dari luar diri siswa. Faktor-faktor ekstern itu antara lain :
1) Latar belakang pendidikan orang tua
Latar belakang pendidikan orang tua paling mempengaruhi prestasi
belajar. Semakin tinggi pendidikan orang tua, maka anak dituntut harus
lebih berprestasi dengan berbagai cara dalam pengembangan prestasi
belajar anak.
2) Status ekonomi sosial orang tua
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak
yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya. Jika anak
hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan pokok anak kurang
terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu. Akibatnya, belajar anak
juga terganggu.
3) Ketersediaan sarana dan prasarana di rumah dan sekolah
Sarana dan prasarana mempunyai arti penting dalam pendidikan dan
sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar
mengajar di sekolah. Sekolah harus mempunyai ruang kelas, ruang guru,
perpustakaan, halaman sekolah dan ruang kepala sekolah. Sedangkan di
rumah diperlukan tempat belajar dan bermain, agar anak dapat berkeasi
sesuai apa yang diinginkan. Semua tujuan untuk memberikan kemudahan
pelayanan anak didik
4) Media yang di pakai guru
Media digunakan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di
sekolah tergantung dari baik tidaknya media yang digunakan dalam
pendidikan yang dirancang. Bervariasi potensi yang tersedia melahirkan
media yang baik dalam pendidikan yang berlainan untuk setiap sekolah.
5) Kompetensi guru
Kompetensi guru adalah cara guru dalam pembelajaran yang dilakukannya
terhadap siswa dengan metode atau program tertentu
Metode atau program disusun untuk dijalankan demi kemajuan
pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik
tidaknya program pendidikan yang dirancang. Bervariasi potensi yang
tersedia melahirkan metode pendidikan yang berlainan untuk setiap
sekolah.
Faktor Intern adalah faktor yang mempengaruhi pretasi belajar yang
berasal dari dalam diri siswa. Faktor-faktor intern itu antara lain :
1) Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap
kemampuan belajar. Siswa yang kesehatannya baik akan lebih mudah
dalam belajar dibandingkan dengan siswa yang kondisi kesehatannya
kurang baik, sehingga hasil belajarnya juga akan lebih baik.
2) Kecerdasan / intelegensia
Kecerdasan/intelegensia besar pengaruhnya dalam menentukan seseorang
dalam mencapai keberhasilan. Seseorang yang memiliki intelegensi yang
tinggi akan lebih cepat dalam menghadapi dan memecahkan masalah,
dibandingkan dengan orang yang memiliki intelegensi rendah. Dengan
demikian intelegensi memegang peranan dalam keberhasilan seseorang
untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Demikian pula dalam prestasi
belajar. Siswa yang memiliki tinggi, prestasi belajarnya juga akan tinggi,
sementara siswa yang memiliki intelegensia rendah maka prestasi yang
diperoleh juga akan rendah.
3) Cara belajar
Cara belajar seseorang mempengaruhi pencapaian hasil belajarnya. Belajar
tanpa memperhatikan teknik dan faktor fisiologis, psikologis dan ilmu
kesehatan akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan.
4) Bakat
Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk
mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Siswa yang belajar
sesuai dengan bakatnya akan lebih berhasil dibandingkan dengan orang
yang belajar di luar bakatnya.
5) Minat
Seorang siswa yang belajar dengan minat yang tinggi maka hasil yang
akan dicapai lebih baik dibandingkan dengan siswa yang kurang berminat
dalam belajar.
6) Motivasi
Motivasi sebagai faktor intern berfungsi menimbulkan, mendasari,
mengarahkan perbuatan belajar. Dengan adanya motivasi maka siswa akan
memiliki prestasi yang baik, begitu pula sebaliknya.
2. Media Gambar
a. Pengertian Media
Media pembelajaran telah dikenal sejak lama, sejak pendidikan formal
atau pengajaran itu ada. Terdapat banyak pengertian atau definisi tentang
media. Namun definisi-definisi yang dimunculkan mengandung makna yang
hampir sama.
Secara etimologis, kata "media" adalah bentuk jamak dari medium, yang
dalam bahasa latin berarti alat, sarana, dan perantara. Media adalah sarana
yang digunakan untuk menampilkan pelajaran dan dalam pengertian yang
lebih luas disebut media pendidikan, dengan pengertian bahwa pendidikan
bukan hanya mencakup pengajaran saja tetapi juga pendidikan dalam arti yang
lebih luas.
Media pendidikan dalam arti sempit terutama hanya memperhatikan dua
unsur dari model kawasan keseluruhan yakni bahan dan alat, walaupun juga
memberi catatan bahwa persoalan yang dihadapi disekolah bukan Cuma
menyangkut kedua unsur tetapi juga melibatkan orang-orang yang
menyediakan dan mengoperasikannya, masalah rancangan, produksi,
pemanfaatan, pengorganisasian, dan pengelolaannya, sehingga bahan dan alat
itu dapat berinteraksi dengan siswa.
Proses belajar mengajar adalah proses komunikasi yang diciptakan oleh
guru dan siswa, dimana kadang terjadi gangguan atau hambatan. Untuk
mengatasi hambatan itu diperlukan adanya media pengajaran yang dapat
untuk meningkatkan efektivitas belajar mengajar. Menurut Oemar Hamalik
(1982 : 23) media pendidikan dapat berfungsi sebagai alat, metode dan teknik
yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi
antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Menurut Arsyad (2002: 11-13) ada beberapa kemampuan media
pengajaran dalam mengefektifkan proses belajar mengajar antara lain: (1)
kemampuan fiksasi, yaitu media mempunyai kemampuan menangkap sesuatu
objek atau peristiwa, (2) kemampuan manipulatif yaitu kemampuan
memindahkan suatu objek yang disesuaikan dengan keperluan, kemampuan
distributive yaitu memungkinkan kita mentransfer atau memindahkan suatu
objek melalui ruang.
Media pembelajaran mempunyai fungsi yaitu: (1) media pembelajaran
dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat
memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar, (2) media
pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga
dapat menimbulkan motivasi belajar, (3) media pembelajaran dapat mengatasi
keterbatasan indera, ruang dan waktu, (4) media pembelajaran dapat
memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa
di lingkungan mereka (Arsyad 2002: 26-27).
Ada bermacam-macam media dalam pendidikan, yaitu:
1) Model
Model adalah alat bantu mengajar sejarah yang berupa bentuk - bentuk
khusus yang bersifat tiga dimensi yang merupakan tiruan dari unsur-unsur
peristiwa sejarah.
2) Bagan waktu
Bagan waktu berfungsi memberikan kerangka kronologis dalam mana
peristiwa dan unsur perkembangannya bisa ditunjukkan dengan jelas.
Selain itu, bagan waktu juga bisa menggambarkan unsur-unsur sebab
akibat dari peristiwa sejarah dan bahkan saling hubungan antara peristiwaperistiwa
dalam berbagai aspek kondisionalnya.
3) Peta
Penggunaan peta sebagai media pengajaran sejarah, merupakan bagian
integral dari materi pengajaran itu sendiri, disebabkan karena suatu
peristiwa sejarah disamping unsur waktu juga punya unsur tempat atau
ruang.
4) Gambar
Gambar digunakan dan diperagakan disusun pada dinding peraga. Gambar
harus cukup jelas, agar siswa dapat melihat dengan jelas.
b. Prinsip-prinsip Penggunaan Media
Media merupakan salah satu komponen penting dalam pembelajaran.
Oleh karena itu, agar pemanfaatannya dapat maksimal, maka harus
memperhatikan beberapa hal Menurut Gerlach sebagaimana dikutip oleh
Dientje Borman Rumampuk (1988: 19) bahwa sebagian bagian integral dari
proses belajar mengajar. Apabila memilih suatu media pembelajaran
hendaknya memperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut: (1) harus
diketahui dengan jelas media itu untuk tujuan apa, (2) pemilihan media harus
secara obyektif, (3) tidak ada satu pun media yang bisa dipakai untuk semua
tujuan karena masing-masing media mempunyai kelebihan dan kelemahan
masing-masing, (4) pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan metode
mengajar serta materi pengajaran yang akan disampaikan, (5) untuk mengenai
media dengan tepat, guru hendaknya mengenal ciri- ciri media, (6) pemilihan
media supaya disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan, dan (7) pemilihan
media juga harus didasarkan pada kemampuan, dan pola belajar siswa.
c. Pemilihan Media yang sesuai
Keterampilan mengembangkan media dapat membantu mempermudah
tugas-tugas sebagai pengajar. Kriteria pemilihan media untuk kepentingan
pembelajaran adalah : (1) ketepatannya dengan tujuan, artinya disesuaikan
atas dasar tujuan instruksional khusus yang ditetapkan, (2) dukungan
terhadap isi bahan: bertujuan bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip,
konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah
dipahami, (3) kemudahan memperoleh media artinya media dapat diperoleh
dengan mudah dan setidak-tidaknya bisa dibuat oleh guru pada waktu
mengajar, (4) tersedia waktu untuk menggunakannya sehingga media tersebut
dapat bermanfaat pada siswa selama pengajaran berlangsung, dan (5) sesuai
dengan taraf berfikir siswa khususnya siswa SD.
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media bukan suatu keharusan
tetapi sebagai pelengkap jika dipandang perlu untuk mempertinggi kualitas
belajar dan mengajar (Sudjana 2001: 5).
3. Media Gambar
Media gambar termasuk ke dalam media visual. Sama dengan media lain,
media gambar berfungsi untuk menyalurkan pesan dan penerima sumber ke
penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol
komunikasi visual. Supaya proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien,
simbol-simbol tersebut perlu dipahami benar. Secara khusus gambar berfungsi pula
untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, menghiasi fakta yang mungkin
akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan.
Media gambar berbentuk dua dimensi (grafis) karena hanya memiliki
ukuran panjang dan lebar. Yang termasuk media gambar adalah gambar, foto,
grafik, bagan atau diagram, kartun, komik, poster, peta dan lain-lain.
Media gambar telah berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi seperti
gambar fotografi. Gambar fotografi bisa diperoleh dari berbagai sumber : surat
kabar, majalah, brosur, dan buku-buku. Gambar, lukisan, kartun, ilustrasi, foto
yang diperolah dari berbagai sumber tersebut dapat dipergunakan oleh guru secara
efektif dalam kegiatan belajar mengajar pada tiap jenjang pendidikan dan
berbagai disiplin ilmu. (Sujana 2000: 78)
Di samping itu gambar/fotografi juga sangat mendorong para siswa untuk
membangkitkan minatnya pada pelajaran, membantu mengembangkan
kemampuan berbahasa, kegiatan seni, melukis, menggunakan serta membantu
mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku-buku teks.
Kriteria dalam pemilihan media gambar adalah berdasarkan persyaraitan
artistik. Media gambar yang memiliki kriteria artistik adalah media gambar grafis.
Media memiliki unsur-unsur adalah gambar dan tulisan. Media ini dapat
digunakan untuk mengungkapk,an fakta atau gagasan menggunakan kata-kata,
angka, serta bentuk simbol (lambang). Media grafis merupakan gambar yang
sederhana untuk menggambarkan data kuantitatif yang akurat dan mudah untuk di
mengerti.
Media pembelajaran gambar mempunyai beberapa kelebihan (Sadiman 2003
: 29-31) yaitu sifatnya konkrit, gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu.
Media gambar juga dapat mengatasi keterbatasan pengamatan manusia, dapat
memperjelas suatu masalah, gambar juga dapat digunakan tanpa memerlukan alat
khusus. Di samping itu media gambar atau foto juga mempunyai beberapa
kelemahan (Sadiman 2003 : 31) yaitu gambar hanya menekankan persepsi indra
mata, gambar benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan
pembelajaran, ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar. Ada beberapa
syarat harus terpenuhi supaya gambar itu baik sebagai media pendidikan
setidaknya gambar itu akan cocok dengan tujuan pendidikan. Gambar tersebut
harus otentik, sederhana dan ukurannya relatif serta gambar sebaiknya
mengandung gerak atau perbuatan, gambar juga hendaknya bagus dari sudut seni
dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
4. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan. Sedangkan metode mengajar adalat teknik atau cara
untuk menlakukan kegiatan pengajaran terhadap siswa.
Menurut Slameto (1991 : 26) ada sepuluh prinisp dari proses pembelajaran
yang harus dikuasai oleh Guru, sebagai berikut :
a. Prinsip Perhatian
Perhatian anak didik diperlukan dalam menerima bahan pelajaran dari guru.
Guru akan sia-sia mengajar bila anak didik tidak memperhatikan penjelasan
guru. Agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik, harus terjadi
interaksi antara anak didik dan guru.
b. Prinsip aktivitas
Dalam proses belajar mengajar, aktivitas anak didik yang diharapkan tidak
hanya aspek fisik, melainkan juga aspek mental. Anak didik bertanya,
mengajukan pendapat, mengerjakan tugas, berdiskusi, menulis dan membaca
c. Prinsip Apersepsi
Prinsip mengajar yang akan membantu anak didik memproses perolehan
belajar. Prinsip hanya membantu anak didik untuk melakukan asosiasi.
d. Prinsip Peragaan
Dalam menyampaikan bahan pelajaran, guru harus mewakili suatu obyek
yang diberikan. Di dalam memberikan pengertian suatu obyek guru harus
menunjukkan atau memperhatikan gambar agar tidak salah pengertian dengan
anak didik
Dalam suatu proses pembelajaran diinginkan suatu pencapaian hasil dari
suatu proses pembelajaran. Hasil yang diharapkan dalam suatu pembelajaran
adalah :
1. siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri
2. siswa belajar mengalami apa yang terjadi.
3. siswa menjadi aktif, kritis dan kreatif
4. siswa selalu belajar dengan perasaan gembira.
Pembelajaran Sejarah di Sekolah Dasar berfungsi dan bertujuan.
1) Pengertian fungsi dan tujuan Mata Pelajaran IPS Sejarah
Mata Pelajaran IPS Sejarah adalah mata pelajaran yang mengkaitkan
antara manusia dengan hubungannya dengan manusia, dengan alam lingkungan.
Hubungan manusia dengan penciptaNya. Yang mengacu kepada pembentukan
manusia seutuhnya. Mata pelajaran IPS sejarah berfungsi sebagai ilmu
pengetahuan untuk mengembangkan kemampuan dan sikap nasional tentang
gejala-gejala sosial serta kemampuan tentang perkembangan masyarakat
Indonesia dari masyarakat dunia dimasa lampau dan masa kini (Depdikbud,
1995/1996 : 1).
Secara umum, tujuan pengajaran IPS Sejarah setelah mengembangkan
pengetahuan dan kemampuan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan
sehari-hari, serta sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam melihat
hubungan manusia dengan manusia. Manusia dengan tingkah lingkungannya,
manusia dengan penciptaNya dalam rangka mewujudkan manusia yang
berkualitas, mampu membangun dirinya dan bertanggungjawab atas
pembangunan bangsa dan serta negara ikut serta bertanggung jawab terhadap
perdamaian dunia (Depdikbud, 1995 / 1996 : 2).
2) Prinsip-prinsip pengajaran IPS Sejarah
Ada beberapa prinsip dalam pengajaran IPS Sejarah meliputi :
a. Dalam mengajarkan bahan-bahan pada ilmu pengetahuan sosial / sejarah
hendaknya dimulai dari lingkungan yang terdekat (sekitar), yang sederhana
sampai kepada bahan yang lebih luas dan komplek. Pengalamanpengalaman
atau pengetahuan pendukungnya yang diperoleh dari
lingkungan sebelum masuk sekolah dasar sangat berpengaruh dalam
menerima ataupun mempelajari konsep dasar, sehingga tugas guru dalam
hal ini adlaah memotivasi agar pengalaman siswa tersebut dijadikan dasar
dalam mempelajari IPS Sejarah
b. Dalam belajar Sejarah pengalaman langsung melalui pengamatan, observasi
maupun mencoba suatu atau dramatisasi akan membantu siswa lebih
memahami pengertian akan ide-ide dasar dalam pelajaran IPS sejarah
sehingga kegiatan siswa terhadap konsep-konsep yang dipelajarinya akan
lebih mendalam.
c. Agar pembelajaran sejarah tetap menarik, dapat digunakan bermacammacam
metode perlu adanya variasi pengajaran seperti melalui nyanyian,
deklamasi, bermain peran dan sosiodrama.
d. Dalam pembelajaran sejarah ada bagian yang perlu dilafalkan. Latihan dan
pengalaman langsung juga perlu dilaksanakan melalui suatu kegiatan
pemecahan masalah sehingga pengertian pemahaman siswa terhadap suatu
konsep dapat diterapkan (Depdikbud 1995 / 1996 : 3).
Hasil dari pembelajaran Sejarah di Sekolah Dasar. Hasil Pembelajaran
Sejarah merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah dia menerima
pengalaman belajarnya. Ada unsur dalam utama dalam proses belajar mengajar,
yaitu :
1) Tujuan pembelajaran
Adalah suatu proses belajar mengajar, pada hakekatnya adlaah rumusan
tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasi oleh siswa setelah menerima atau
menempuh pengalaman belajarnya.
a. Menanamkan perasaan kebangsaan berkaitan dengan kesadaran nasional
b. Menunjukkan kemajuan bangsa kita
c. Memberikan pengertian-pengertian sejarah
d. Menumbuhkan minat pada sejarah.
2) Bahan / sumber pembelajaran
Adalah pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dari kurikulum untuk
disampaikan atau dibahas dalam proses belajar mengajar agar sampai pada
tujuan yang ditetapkan.
3) Metode dan alat pembelajaran
Adalah cara atau tehnik yang digunakan dalam mencapai tujuan.
5. Rencana Pembelajaran
Kompetensi dasar : Kemampuan menghargai peninggalan bangunan -
Bangunan (kota / kabupaten / atau propinsi )
Hasil Pelajar : Mewujudkan sikap menghargai bangunan -
Bangunan terutama di kota Semarang
Langkah Pembelajaran : Mewujudkan sikap menghargai bangunan
a. Pendahuluan
1) Siswa bersama-sama menyanyikan lagu "simpang lima ria"
2) Menanyakan pada siswa terletak di kota mana simpanglima tersebut
b. Kegiatan Inti
1) Menceritakan bangunan - bangunan yang berada di kota Semarang
Diharapkan siswa dapat menceritakan bangunan - bangunan yang
bersejarah yang berada di Semarang
2) Menunjukkan letak bangunan tersebut dengan peta atau secara
lesan
Siswa dapat menunjukkan letak bangunan bersejarah yang menggunakan
peta.
3) Menunjukkan gambar-gambar bangunan bersejarah yang beada di kota
Siswa dapat menunjukkan bangunan bersejarah yang berada di kota
Semarang
4) Menyebutkan bangunan - bangunan yang ada di sekitar tugu muda dengan
menunjukkkan gambar (gereja blenduk, lawang sewu, tugu muda,
museum perjuangan dll)
Siswa dapat menyebutkan bangunan - bangunan bersejarah di sekitar tugu
muda
5) Menunjuk siswa untuk mengambil gambar yang sesuai dengan perintah
guru
Siswa dapat mengambil sesuai apa yang diperintahkan guru
6) Menunjukkan gambar-gambar bangunan di Semarang
Siswa dapat menunjukkan gambar - gambar bangunan bersejarah di
Semarang
7) Merangkum materi pembelajaran.
c. Kegiatan Penutup
1) Siswa mencatat rangkuman pembelajaran
2) Untuk memperkaya pengetahuan siswa mengidentifikasi dan
mendiskripsikan bangunan - bangunan bersejarah di Semarang
6. Pengertian Media Pembelajaran Gambar
Media grafis termasuk ke dalam media visual. Sama dengan media lain,
media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dan penerima sumber ke
penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbolsimbol
komunikasi visual. Supaya proses penyampaian pesan dapat berhasil dan
efisien, simbol-simbol tersebut perlu dipahami benar. Secara khusus grafis
berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, menghiase fakta
yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan.
Pembuatan media grafis sederhana dan mudah jika ditinjau dari segi biaya
juga relatif murah. Banyak sekali jenis media grafis diantaranya adalah gambar.
Media gambar merupakan bahasa yang umum yang dapat dimengerti dan
dipahami dimana-mana.
Media pembelajaran gambar mempunyai beberapa kelebihan (Sadiman,
2003, 29-31) yaitu, sifatnya konkrit, gambar dapat mengatasi batasan ruang dan
waktu, media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita, dapat
memperjelas suatu masalah, gambar juga dapat digunakan tanpa memerlukan alat
khusus.
Namun selain itu gambar mempunyai beberapa kelemahan yaitu gambar
hanya menekankan persepsi indra mata, gambar benda yang terlalu kompleks
kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran, ukurannya sangat terbatas untuk
kelompok besar. Ada beberapa syarat harus terpenuhi supaya gambar itu baik
sebagai media pendidikan setidaknya gambar itu akan cocok dengan tujuan
pendidikan. Gambar tersebut harus otentik, sederhana dan ukurannya relatif serta
gambar sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan, gambar juga hendaknya
bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
(Sadiman, 2003, 29-31)
Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Kata itu berasal
dari bahasa latin medius yang artinya tengah. Dalam bahasa Indonesia. Kata
medium artinya antara. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari
pengirim ke penerima pesan (Sadiman dkk, 2003 : 6) Ahli komunikasi
merumuskan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat diindera yang
berfungsi sebagai sarana atau alat untuk proses komunikasi (Rustaman dkk 2003 :
134). Secara harfiah kata media berarti pengantar atau perantara.
Association for Education and Communication Technology (AET)
mengartikan media sebagai bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran
informasi sedangkan National Education Association (NEA) mengartikan media
sebagai segala benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau
dibicarakan beserta instrumen yang digunakan dalam kegiatan tersebut. Menurut
Dageng yang dikutip Kustiyono (2001 : 4). Pembelajaran adalah salah satu upaya
untuk membelajarkan siswa.
Dalam upaya untuk pembelajaran / membelajarkan siswa, peranan dan
fungsi media pembelajaran ialah sebagai media komunikasi yang dipakai dalam
kegiatan belajar mengajar. Proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah prose
skomunikasi yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesarn melalui salauran
atau media tertentu ke penerima pesan.
Sumber pesan, saluran atau media dan penerima pesan adalah komponenkomponen
proses komunikasi. Pesan yang akan disampaikan adalah isi ajaran
atau didikan yang ada dalam kurikulum, sumber pesannya bisa guru, siswa, orang
lain atau penuylis buku dan produser media, salurannya adalah media pendidikan
dan penerima pesannya yaitu siswa atau juga guru.
Di dalam pembelajaran sebagai pross komunikasi terdapat kendala atau
gangguan yang mempengaruhinya yang disebut noise. Gangguan-gangguan ini
dapat berupa hambatan psikologis seperti : kurangnya minat, rendahnya
intelegensi, kualitas fisiologis seperti : kelelahan, keterbatas daya indera dan
hambatan kultural seperti : kebiasan serta hambatan yang berasal dari lingkungan.
Perbedaan gaya belajar, minat, integelensi, keterbatasan daya indera, cacat tubuh
atau hambatan jarak geografis, jarak waktu dan lain-lain dapat dibantu diatasi
dengan pemanfataan media pendidikan.
Media sebagai salah satu sumber belajar yang dapat membantu guru dan
siswa dalam mengatasi hambatan-hambatan yang ada. Oleh karena itu dapat
dikatakan bahwa media pembelajaran adalah segala jenis sarana yang dapat
diindera yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan
efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran (Sadiman dkk, 2003 :
12-13).
Dengan demikian media pembelajaran merupakan bagian integral dari
proses belajar mengajar dan bertumpu pada tujuan, materi, pendekatan, metode
dan evaluasi pembelajaran. Ada dua unsur yang terkandung dalam media
pembelajaran yaitu (1) pesan atau bahan pembelajaran yang akan disampaikan,
dengan istilah lain disebut perangkat lunak (software) dan (2) perangkat keras
(hardware) yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar.
Dengan penggunaan media guru dan siswa diharapkan dapat berkomunikasi
lebih baik, mantap dan kelas menjadi hidup. Penggunaan media secara kreatif
dapat memungkinkan siswa belajar lebih banyak, mencamkan apa yang
dipelajarinya dengan baik dan meningkatkan performance siswa sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Macam-macam media pembelajaran yang
dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dapat dikelompokkan sebagai
berikut :
a. Bahan publikasi : koran, majalah,buku
b. Bahan bergambar : gambar, bagan, peta, poster, foto, lukisan, grafik,
diagram
c. Bahan pameran : buletin board, papan flanel, papan magnet, papan
demonstrasi
d. Bahan Proyeksi : film-film strip, slide transpartansi, OHP
e. Bahan rekaman audio : tape casette, piringan hitam, kaset video.
f. Bahan produksi : kamera, tape recorder, termosfek (untuk memmbuat
transpansi)
g. Bahan Siaran : program radio, program televisi.
h. Bahan Pandang dengar (audio visual) : TV, film suara, slaide bersuara,
video casette
i. Bahan model /benda tiruan, selain masih ada lagi media yang kita kenal
antara lain : diorama, pertunjukan wayang dan boneka.
(Rusiaman, 2003 : 136)
Pemanfaatan media merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan
kualitas pendidikan pada umumnya dan peningkatan proses belajar
mengajar pada khususnya serta upaya menciptakan kondisis belajar yang
dapat menunjang agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan
efisien.
7. Pemanfaatan Media Gambar dalam Pembelajaran PKPS/IPS Sejarah
Pemanfaatan media gambar sejarah diperlukan strategi yang tepat, hal ini
dimaksudkan agar pelajaran tidak terjebak pada sifat monoton dan siswa tidak
hanya menonton. Pembelajaran sejarah dengan diawali media gambar akan
membawa suasana belajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan, kemudian
dilanjutkan dengan menjelaskan atau menuliskan sejarah yang disajikan dalam
gambar.
Beberapa strategi yang dapat dipilih :
a. Serangkaian gambar untuk belajar berkelompok
Gambar disajikan bersamaan dengan serangkaian pertanyaan yang harus
didiskusikan dengan imajinasi dan persepsi kelompok.
b. Serangkaian gambar untuk belajar individual
Rangkaian gambar disajikan kepada setiap anak didik dengan cara lisan.
Kemudian meminta pendapat anak didik, serta memberikan tugas sesuai
dengan kemampuan mereka.
c. Gambar dinding
Gambar dinding biasanya sejak lama tergantung pada dinding kelas, dengan
memanfaatkan gambar dinding sebagai media pembelajaran.
d. Gambar pada film strip dan slide
Gambar-gambar koleksi sejarah yang banyak tersimpan dalam film skrip
menggunakan peralatan khusus yaitu proyektor.
B. Hipotesis Tindakan Kelas
Prestasi belajar dalam pelajaran PKPS/Sejarah pada pokok bahasan peninggalan
bangunan bersejarah pada siswa Kelas IV SDN Gisikdrono 04 Kecamatan Semarang
Barat Kota Semarang tahun ajaran 2005/2006 akan meningkat melalui penggunaan
media gambar.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
SD Gisikdrono 04 berdiri pada tahun 1980. Sebelum berdirinya SD
Gisikdrono 04 telah berdiri SD Gisikdrono 01, SD Gisikdrono 02, SD Gisikdrono
03.
Pada awalnya lahan yang dijadikan SD Gesikdrono 04 merupakan daerah
perbukitan yang penuh tumbuhan liar. Berdasarkan Instruksi Presiden No. 1 tahun
1973, lahan tersebut diminta untuk didirkan sebuah gedung Sekolah Dasar.
Pelaksanaan pekerjaan dilakukan dengan prakarsa dari Bapak Lurah Ragil Jayadi
dibantu oleh Bapak Sardjono, Bapak Sukadi, Bapak Purwono dan Bapak Daryono.
Untuk meratakan tanah tersebut Bapak Lurah minta bantuan Satuan Al Hanud dan
alat-alat beratnya. Pada tanggal 1 Januari 1974, SD Gisikdrono diresmikan oleh
Walikota Semarang. Bangunan yang diresmikan tersebut terdiri dari 3 ruang kelas
untuk belajar, 1 ruang guru dan Kepala sekolah.
Pertambahan penduduk yang sangat pesat di sekitar wilayah sekolah, karena
pada saat itu mayoritas penduduk adalah pasangan usia subur, mengakibatkan
hanya dalam jangka waktu empat tahun, sekolah dasar yang ada di Gesikdrono
tersebut tidak dapat menampung siswa lagi. Oleh karena itu pada tahun 1984 berdiri
SD Gisikdrono 5 sehingga SD Gisikdrono terdapat 4 SD yaitu SD Gisikdrono 02.
03, 04 dan 05.
B. Subyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IV SD Gisikdrono 04 Semarang.
Subyek ini perlu ditingkatkan prestasi belajarnya karena hasil yang diperoleh pada
mata pelajaran PKPS/IPS Sejarah sangat tidak memuaskan. Untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa di kelas ini digunakan media gambar.
C. Variabel Penelitian
Variabel diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi obyek
pengamatan. Variabel merupakan suatu gejala yang menunjukkan jenis maupun
tingkatannya (Hadi 1985 : 224)
Dari penelitian ini terdapat dua variabel yaitu : (1) Prestasi belajar, dan (2)
Penggunaan media gambar dalam pembelajaran PKPS/Sejarah.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Test
Test adalah serangkaian butir pertanyaan yang diberikan kepada
peserta test untuk mengetahui kemampuannya. Metode tes digunakan
untuk menilai dan mengukur prestasi belajar siswa terutama aspek kognitif
berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan
pendidikan dan pengajaran. Tes sebagai alat penilaian disusun berupa
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat
jawaban dari siswa dalam bentuk lisan, tulisan atau tindakan (Sudjana
1989: 35 - 36). Dalam penelitian ini alat pengumpulan data ini dipakai
untuk mendapatkan data tentang prestasi belajar sejarah.
b. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data yang
bersumber pada dokumen. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data
tentang nama siswa Kelas IV SD Gisikdrono 04 Kecamatan Semarang Barat
Kota Semarang. .
F. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas memiliki tahapan kegiatan yang terdiri dari dua
siklus atau lebih tergantung dalam implementasinya. Setiap tahapan dirancang
dengan melalui tahapan: refleksi, perencanaan/persiapan, tindakan, dan analisis.
1. Refleksi awal
Dalam refleksi awal, dari pengalaman belajar ditentukan kelemahan dan
kekuatan. Dalam refleksi awal ditemukan masalah bahwa :
a. Pembelajaran belum menggunakan metode yang bervariasi dan cenderung
hanya menggunakan metode ceramah.
b. Siswa kurang aktif dalam proses belajar mengajar sejarah.
2. Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi awal, disusun perencanaan tentang tindakan yang
akan dilakukan dalam penelitian. Langkah dilakukan adalah:
a. Membuat rencana pembelajaran menggunakan metode gambar
b. Membuat lembar observasi (pengamatan) sebagai pedoman atas proses
pembelajaran.
3. Tindakan
Tindakan adalah sesuatu pelaksanaan atas rencana yang telah disiapkan. Pada
saat tindakan dilaksanakan, dilakukan observasi terhadap proses belajar
mengajar untuk mengetahui perubahan yang terjadi akibat dari tindakan yang
dilakukan.
4. Refleksi
Pada kegiatan ini dilakukan refleksi dan analisis didasarkan pada hasil
pengamatan. Hasil analisis berupa masukan yang akan digunakan untuk
perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus berikutnya.
Untuk memperjelas alur penelitian di lihat pada gambar di bawah ini :
Diagram Alir Penelitian Tindakan
G. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis dengan analisis kualitatif menggunakan
model interaktif dari Milles dan Huberman (1984) yang meliputi tahap reduksi data,
sajian data, penarikan simpulan dan verifikasi penelitian. Keempat komponen analisis
tersebut (reduksi, sajian, penarikan kesimpulan dan verifikasi) dilakukan secara
simultan sejak proses pengumpulan data dilakukan.
Permasalahan Alternatif Pemecahan Pelaksanaan Tindakan
Selesai Siklus I
Belum Selesai Alternatif Pemecahan Pelaksanaan Tindakan
Refleksi Analisis Data Observasi
Selesai
Siklus 2
Refleksi Analisis Data Observasi
Belum selesai Siklus Berikutnya
Teknik analisis lain yang digunakan adalah analisis statistik sederhana yaitu
teknik analisis deskriptif persentase. Teknik analisis ini digunakan untuk mengetahui
peningkatan prestasi belajar siswa sesudah diberi pembelajaran dengan menggunakan
media gambar.
Teknik analisis menggunakan rumus prosentase adalah :
N
P = x 100%
m
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
F. A. Hasil Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama kurang lebih satu semester, yaitu pada semester
genap. Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan menggunakan dua siklus,
yaitu siklus I dan Siklus II.
1. Hasil Pada Siklus I
Pada siklus I, materi pembelajaran yang disampaikan adalah peninggalan
bangunan-bangunan bersejarah di Semarang dengan menggunakan media gambar
yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pelaksanan pembelajaran berlangsung di SD
Gisikdrono 04 Semarang,
Pada prinsipnya proses pembelajaran mengarah kepada pendekatan
keterampilan proses yang sekarang analog dengan pendekatan Contextual
teaching and Learning (CTL) yang berbasis kompetensi. Pembelajaran disusun
untuk merangsang adanya respon belajar siswa .
Tindakan yang dilakukan pada siklus I ini berupa pelaksanaan dari rencana
yang telah disiapkan. Sementara tindakan dilaksanakan, dilakukan observasi
bersama observer terhadap proses yang terjadi akibat dari tindakan yang
dilakukan. Di samping itu dilakuan pula pencatatan data, gagasan kesan-kesan
yang muncul dalam penelitian.
Berdasarkan pengamatan memperlihatkan bahwa selama proses belajar
mengajar berlangsung, guru memberikan materi tentang bangunan-bangunan
bersejarah di Semarang. Secara keseluruhan guru mengampu tidak mengalami
hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran.
Dengan menggunakan instrumen I memperlihatkan bahwa keaktifan dan
partisipasi siswa dalam pembelajaran sudah meningkat. Banyak muncul
pertanyaan dari siswa di samping guru juga memberikan pertanyaan kepada
siswa. Hanya saja, secara kuantitas, frekuensi pertanyaan masih perlu ditambah
agar distribusinya merata, prinsip pemindahan giliran pertanyaan dapat sesuai
porsinya.
Analisis terhadap aktivitas siswa dalam menjawab pertanyaan dan
mengemukakan pendapat tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi
pembelajaran menunjukkan bahwa siswa terlihat antusias dalam pembelajaran
yang dilakukan.
Pada akhir pelaksanaan tindakan pada siklus pertama, peneliti melakukan post
tes. Hasil dari post tes menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sesudah diberi
pembelajaran dengan menggunakan media gambar menunjukkan peningkatan.
Sebelum diberi pembelajaran, hasil belajar siswa menunjukkan dari 42 orang siswa
kelas IV, 30 orang (72%) siswa mendapatkan nilai di bawah 6, dan hanya 12 orang
siswa (28%) yang mendapat diatas 6. Sesudah pembelajaran dilakukan hasilnya
menjadi 15 orang siswa mendapatkan nilai di bawah 6, dan 27 orang mendapatkan
nilai di atas 6. Secara keseluruhan rata-rata kelas menjadi 6,50. Peningkatan ini tentu
belum sesuai dengan apa yang diharapkan dan masih berada di bawah angka prinsip
belajar tuntas. Oleh karena itu perlu dilakukan siklus kedua.
Untuk mengatasi hambatan kinerja pada siklus ini, maka diadakan refleksi
yang berupa renungan terhadap pengalaman mengenai kekuatan dan kelemahan
tindakan selama kegiatan pada siklus I. Dalam refleksi terhadap tindakan pada
siklus I, didapatkan hasil sebagai berikut : (1) masih ada beberapa siswa yang
pasif. Oleh karena itu peneliti memotivasi bahwa semua kegiatannya akan dinilai,
(2) media gambar yang digunakan ada yang kurang jelas gambarnya sehingga
perlu diperbaiki, dan (3) secara garis besar, pelaksanaan siklus I telah berlangsung
dengan baik.
2. Hasil Pada Siklus II
Pelaksanaan siklus II didasarkan atas hasil refleksi pada siklus I. Jika hasil
dari pengamatan ternyata bobot kualitatifnya masih kurang atau cukup, maka
perlu ada tindakan lanjutan dari guru yang didasarkan atas diskusi kolaboratif
antara peneliti dan guru agar pada siklus berikutnya ada peningkatan bobot
kualitatifnya.
Hasil refleksi pada siklus I menjadi bahan bagi penyusunan perencanaan
pada siklus II. Pada siklus II, materi pembelajaran yang disampaikan masih pokok
bahasan peninggalan bangunan-bangunan bersejarah di Semarang. Pembelajaran
dilakukan dengan menggunakan media gambar yang telah diperbaiki gambarnya
berasarkan hasil refleksi pada siklus I. Pelaksanan pembelajaran berlangsung di
SD Gisikdrono 04 Semarang,
Proses pembelajaran yang dikembangkan pada pelaksanaan tindakan pada
siklus II masih mengarah kepada pendekatan keterampilan proses yang sekarang
analog dengan pendekatan Contextual teaching and Learning (CTL) yang
berbasis kompetensi. Pembelajaran disusun untuk merangsang adanya respon
belajar siswa .
Tindakan yang dilakukan pada siklus II ini berupa pelaksanaan dari rencana
yang telah disiapkan. Pada saat tindakan dilakukan juga dilakukan pencatatan
data, gagasan kesan-kesan yang muncul dalam penelitian.
Berdasarkan pengamatan pada siklus II memperlihatkan bahwa selama
proses belajar mengajar berlangsung, guru telah memberikan materi tentang
bangunan-bangunan bersejarah di Semarang dengan menggunakan media gambar
dengan baik. Secara keseluruhan guru pengampu tidak mengalami hambatan
dalam pelaksanaan pembelajaran.
Dengan menggunakan instrumen yang telah disiapkan sebelumnya
memperlihatkan bahwa keaktifan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran
semakin meningkat. Banyak muncul pertanyaan dari siswa di samping guru juga
memberikan pertanyaan kepada siswa. Analisis terhadap aktivitas siswa dalam
menjawab pertanyaan dan mengemukakan pendapat tentang hal-hal yang
berkaitan dengan materi pembelajaran menunjukkan bahwa siswa terlihat antusias
dalam pembelajaran yang dilakukan.
Pada akhir pelaksanaan tindakan pada siklus II, peneliti melakukan post tes.
Hasil dari post tes menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sesudah diberi
pembelajaran pada siklus II dengan menggunakan media gambar menunjukkan
peningkatan. Sebelum diberi pembelajaran, hasil belajar siswa siswa pada siklus I
menunjukkan dari 42 orang siswa kelas IV, 15 orang siswa mendapatkan nilai di
bawah 6, dan 27 orang mendapatkan nilai di atas 6. Secara keseluruhan rata-rata kelas
menjadi 6,50. Sesudah siklus II dilakukan hasilnya menjadi 5 orang siswa
mendapatkan nilai di bawah 6, dan 37 orang mendapatkan nilai di atas 6. Secara
keseluruhan rata-rata kelas menjadi 7,50. Peningkatan ini sudah sesuai dengan apa
yang diharapkan yang dituangkan dalam hipotesis, dan sesuai dengan priinsip belajar
tuntas. Oleh karena itu peneliti merasa tidak perlu untuk melakukan siklus ketiga, dan
penelitian dianggap telah berhasil.
B. Pembahasan
Hasil pengamatan pada siklus I dengan lembar obsrvasi yang digunakan oleh peneliti
untuk menganalisis siswa selama proses pembelajaran pada Siklus I menunjukkan
perubahan ke arah yang positif. Hal-hal yang mendukung terjadinya peningkatan
kualitas pembelajaran sejarah berdasarkan kejadian selama proses pembelajaran
diantaranya dapat diketahui melalui pendapat dari siswa.
Hasil belajar yang diperoleh siswa pada siklus I menunjukkan adanya peningkatan
dibandingkan sebelum diberi pembelajaran dengan media gambar. Kondisi seperti ini
sesuai dengan pendapat Conny Semiawan (1987: 8) yang menyatakan bahwa metode
dan pendekatan yang digunakan guru secara lebih variatif akan mendorong siswa
untuk belajar secara aktif, sehingga penyajian materi pelajaran oleh guru akan lebih
menarik. Pembelajaran yang sebelumnya bersifat abstrak dan teoretis, sehingga siswa
tidak aktif dalam pembelajaran dan menimbulkan kebosanan terhadap pembelajaran
yang dilakukan berubah menjadi menarik.
Upaya yang dilakukan guru untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan
menggunakan media gambar atau foto merupakan langkah yang tepat. Dengan media
ini siswa menjadi lebih paham, karena pembelajaran menjadi lebih konkrit dan
realistis. Media gambar merupakan sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam
bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan atau pikiran (Rumampuk 1988 : 8).
Sejumlah gambar, lukisan, baik dari majalah, buku, koran, dan lain-lain yang ada
hubungannya dengan pelajaran dapat dipergunakan sebagai alat peraga pembelajaran
(Sudjana 1982: 30). Penggunaan media gambar dapat meningkatkan pemahaman
siswa akan materi yang disampaikan guru. Oleh karena itu tak heran jika dalam siklus
I penelitian sudah terlihat adanya peningkatan prestasi belajar siswa.
Pembelajaran dengan menggunakan media gambar juga mengikis kesan verbalisme
dalam pembelajaran sejarah. Guru cenderung lebih mengurangi komunikasi satu arah,
sehingga peran aktif siswa dalam pembelajaran menjadi lebih meningkat. Untuk lebih
meningkatkan hasil yang maksimal dalam suatu proses pembelajaran, serta
mengetahui tingkat kemampuan anak secara maksimal pula diadakan siklus II.
Pada Siklus II hasil belajar siswa sesudah diberi pembelajaran pada siklus II dengan
menggunakan media gambar menunjukkan peningkatan. Sebelum diberi
pembelajaran, hasil belajar siswa siswa pada siklus I menunjukkan dari 42 orang
siswa kelas IV, 15 orang siswa mendapatkan nilai di bawah 6, dan 27 orang
mendapatkan nilai di atas 6. Secara keseluruhan rata-rata kelas menjadi 6,50. Sesudah
siklus II dilakukan hasilnya menjadi 5 orang siswa mendapatkan nilai di bawah 6, dan
37 orang mendapatkan nilai di atas 6. Secara keseluruhan rata-rata kelas menjadi
7,50. Peningkatan ini sudah sesuai dengan apa yang diharapkan yang dituangkan
dalam hipotesis, dan sesuai dengan priinsip belajar tuntas. Oleh karena itu peneliti
merasa tidak perlu untuk melakukan siklus ketiga, dan penelitian dianggap telah
berhasil.
Peningkatan hasil belajar siswa sesudah siklus II dilakukan disebabkan semakin
baiknya media yang digunakan. Hasil ini sesuai dengan pendapat Slameto (1995: 54-
72) yang menyatakan bahwa keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik
tidaknya media yang digunakan dalam pendidikan yang dirancang. Dengan bervariasi
potensi yang tersedia melahirkan media yang baik dalam pendidikan yang berlainan
untuk setiap sekolah.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Hasil penelitian yang dilakukan menghasilkan temuan-temuan sebagai berikut:
1. Hasil belajar yang diperoleh siswa pada siklus I menunjukkan adanya
peningkatan dibandingkan sebelum diberi pembelajaran dengan media
gambar. Sebelum diberi pembelajaran, hasil belajar siswa menunjukkan dari
42 orang siswa kelas IV, 30 orang (72%) siswa mendapatkan nilai di bawah 6,
dan hanya 12 orang siswa (28%) yang mendapat diatas 6. Sesudah
pembelajaran dilakukan hasilnya menjadi 15 orang siswa mendapatkan nilai
di bawah 6, dan 27 orang mendapatkan nilai di atas 6. Secara keseluruhan
rata-rata kelas menjadi 6,50, hasil masih kurang memuaskan
2. Pada Siklus II hasil belajar siswa sesudah diberi pembelajaran pada siklus II
dengan menggunakan media gambar menunjukkan peningkatan. Sebelum
diberi pembelajaran, hasil belajar siswa siswa pada siklus I menunjukkan dari
42 orang siswa kelas IV, 15 orang siswa mendapatkan nilai di bawah 6, dan
27 orang mendapatkan nilai di atas 6. Secara keseluruhan rata-rata kelas
menjadi 6,50. Sesudah siklus II dilakukan hasilnya menjadi 5 orang siswa
mendapatkan nilai di bawah 6, dan 37 orang mendapatkan nilai di atas 6.
Secara keseluruhan rata-rata kelas menjadi 7,50.
3. Upaya yang dilakukan guru untuk meningkatkan prestasi belajar siswa
dengan menggunakan media gambar atau foto merupakan langkah yang tepat.
Dengan media ini siswa menjadi lebih paham, karena pembelajaran menjadi
lebih konkrit dan realistis.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Guru dalam setiap pembelajaran sejarah yang dilakukannya perlu
mempersiapkan media yang digunakan untuk menjadikan pembelajaran
sejarah lebih mudah dipahami dan disenangi.
Kepala sekolah perlu memfasilitasi ketersediaan media pembelajaran di sekolah
DAFTAR PUSTAKA
Abu. Ahmadi, 1999. Psikologi Sosial, Jakarta. Rineka Cipta
Arsyad, Ashar, 1997, Media Pembelajaran, Jakarta : Raja Grafindo.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi
IV. Jakarta : Rineka Cipta.
Dimyati, Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Darsono, Max. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press.
Hadi, Sutrisno. 2000. Statistik 2. Yogyakarta : Andi Offset.
Hadi, 1979. Statistik 1. Yogyakarta : Andi Offset.
Hamalik, Oemar. 1986. Media Pendidikan, Bandung : Alumni
--------------. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito
Kartodirjo, 1992. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia Suatu Alternatif.
Jakarta : Gramedia.
Semiawan, Conny. 1987. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah.
Jakarta : Gramedia.
Singgih Santoso. 2003. Statistik Non Parametrik. Jakarta : PT Elex Media Komputindo
Slameto. 2003. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bhumi Aksara.
Sugiyono, 1999. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta.
Sudjana, Nana. 2000. Penilaian hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja
Rosda Karya.
Sudjana, 2001. Statistika, Bandung : Remaja Rosda Karya
Syaiful Bahri Djamarah, 2000, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta :
PT Rineka Cipta.
, 2002, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : PT. Rineka Cipta.
, 2002, Psikologi Belajar, Jakarta : PT. Rineka Cipta.
, 2003, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Universitas Terbuka.
Winkel, W.S. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta : PT. Grasindo.

»»  Baca Selengkapnya Klik Di Sini...